Pages

Subscribe:

Senin, 05 Maret 2012

Ketum PSSI Baru Ditantang Bangkitkan Persikad

DEPOK - Pengurus Cabang Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Depok mendukung kepemimpinan baru Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husein, yang terpilih kemarin dalam Kongres Luar Biasa di Solo, Jawa Tengah. Meskipun Pengcab PSSI Depok sebelumnya mendukung pencalonan George Toisutta, namun dengan terpilihnya Djohar diharapkan mampu memimpin PSSI secara lebih baik.

Sekretaris Pengcab PSSI Depok Rahmat Hidayat mengatakan sejak awal kongres PSSI digelar, pihaknya hanya berharap siapa pun pemimpinnya mampu mewujudkan reformasi sepak bola Indonesia ketimbang kepemimpinan Nurdin Khalid. Hal itu, kata dia, yang kini diharapkan dari sosok Djohar.

Besok, Sarasehan Sepakbola Gelar Diskusi Soal KLB PSSI

Rabu, 22 Juni 2011 23:48 wib
Foto: Ist
Foto: Ist
BANDUNG - Kemelut yang kini melanda proses pemilihan ketua dan wakil ketua umum PSSI belakangan telah menjadi perhatian publik.

Terkait hal tersebut, sejumlah pemerhati sepakbola nasional menggelar sarasehan sepak bola Indonesia dengan topik “Menggugat Prestasi” di Gedung Indonesia Menggugat, Jl.Perintis Kemerdekaan Bandung, Kamis (23/6) mulai pukul 8.30 WIB.

PSSI Dukung SSB Real Madrid di Indonesia

JAKARTA - Ketua Umum (Ketum) PSSI, Djohar Arifin Husin, sambut gembira akan dibukanya tujuh Sekolah Sepak Bola (SSB) Real Madrid di Indonesia.

Los Merengues, julukan Madrid, akan membuka sekolah sepakbola di beberapa kota di Indonesia antara lain, Yogyakarta, Sidoarjo, Jayapura, Makassar, Banjarmasin, Samarinda dan Banda Aceh.

Federasi sepak bola Tanah Air ini berharap, hadirnya SSB Madrid akan memberi warna tersendiri bagi persepakbolaan Indonesia. Selain itu, tentu saja kualitas Madrid yang sudah mendunia akan menyaring bakat-bakat muda sepak bola Indonesia menjadi lebih baik kedepannya.

PSSI pun bersukur, SSB klub papan atas La Liga ini mementingkan nilai sosial dari pada mengejar materi. PSSI yakin, niat SSB Madrid merangkul bakat-bakat dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, akan memberikan dampak positif.

"Ini program yang sangat bagus. Selain kualitas SSB Madrid memang sudah tidak bisa dipungkiri. Mereka fokus kepada sisi sosial yang ditunjukan kepada anak-anak kurang mampu," ungkap Djohar.

SSB Madrid sendiri akan segera diresmikan pada 3 Maret mendatang. Sementara peluang dibukanya SSB Madrid di Indonesia, menurut Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Spanyol, Adiyatwidi Adiwoso Asmadi, dilihat dari banyaknya generasi muda yang memiliki bakat-bakat sepak bola.
Selain adanya potensi sepak bola di Indonesia, keinginan Madrid untuk membantu Indonesia juga sarat terlihat disini. Menurut data yang dipaparkan Widi, SSB Madrid akan memberikan porsi lebih kepada anak-anak yang kurang mampu.

“Komposisi murid untuk setiap sekolah itu terdiri atas 60 persen untuk siswa tidak mampu dan 40 persen untuk siswa mampu. Mereka diprioritaskan, karena memang Real Madrid ingin membantu mereka,” tandas Widi.

Darius: Kita Harus Menang!

okezone.com
Darius (Foto: Okezone)
JAKARTA - Darius Sinathrya optimis tim nasional U-23 bisa menang melawan Malaysia, di babak final ajang Sea Games 2011. Bagi Darius, kemenangan sepak bola dan menjadi juara umum Sea Games XXVI, merupakan bagian harga diri bangsa.

"Kalau sepak bola pertandingannya banyak, tapi emasnya satu. Tapi kan prestige. Selain juara umum, sepak bola diharapkan bisa menang. Itu melengkapi. Juara umum adalah pencapaian yang hebat, tapi kemenangan sepak bola akan melengkapi. Selalu ada impian dan optimisme untuk bola," kata Darius ditemui di Gedung Serba Guna Senayan, Jakarta Pusat, Senin (21/11/2011).

Suami Donna Agnesia ini berharap, berapapun skor-nya, Indonesia dapat memenangkan pertandingan.

"Berat namanya final. Asal jangan adu penalti. Berapapun skornya yang penting kita harus menang," tandasnya.(rik)

Membangun Timnas

Timnas Indonesia (istimewa)
Timnas Indonesia (istimewa)
SEPERTI benang kusut yang seakan-akan tidak pernah terurai, permasalahan sepak bola di Indonesia dari hari ke hari semakin rumit.

Beberapa hari yang lalu, Timnas kita kedatangan tamu besar Timnas Uruguay. Hasilnya tentu kita semua sudah tahu. Timnas kita dicukur habis 7-1 oleh Uruguay. Memang, secara peringkat Timnas kita kalah jauh dibanding Uruguay. Namun, sebenarnya apa yang salah dari pembangunan sepak bola kita? Bukankah dulu kita bisa mengimbangi Uruguay bahkan Brasil sekalipun? Menurut saya penyebabnya adalah pembangunan usia dini yang belum maksimal. Membangun timnas sepak bola yang bagus dan kompetitif, tidak bisa dilakukan secara instan. Harus ada upaya yang berkelanjutan agar tujuan tersebut dapat tercapai. Selain itu, perlu adanya sistem kompetisi yang tertata untuk usia dini.

Saat ini, anak-anak Indonesia seakan-akan bermain sepak bola seperti tanpa wadah. Kalaupun ada, itu tidak ditunjang dengan prasarana yang mendukung seperti lapangan sepak bola yang representatif. Mereka lebih banyak bermain di lapangan yang becek dan tidak rata, bahkan ada yang memanfaatkan lapangan bulutangkis dan jalan beraspal sebagai lapangan sepak bola. Ironisnya, pemerintah justru mematikan bakat-bakat mereka dengan menggusur lapangan sepak bola untuk dijadikan mal atau pusat perkantoran. Kalau sudah begitu, akan ke manakah mereka menyalurkan bakat sepak bolanya? Diperlukan kesadaran bersama untuk membangun sepak bola Indonesia sejak dini.

Saya pikir pemerintah bisa memulainya dengan membuat wadah kompetisi bagi anak-anak di Indonesia, membangun sekolah sepak bola yang berkualitas termasuk membangun infrastruktur yang memadai agar upaya tersebut bisa dijalankan dengan maksimal.Tentunya upaya ini memerlukan biaya yang tidak sedikit dan diperlukan pula kesabaran dari masyarakat Indonesia. Selain upaya di atas, hal yang diperlukan selanjutnya adalah pembangunan mental juara bagi anak-anak Indonesia agar kelak jika mereka bertanding, mereka tidak merasa inferior dengan lawan mereka kelak. Menurut saya hal inilah yang sering diabaikan oleh kita. Kita lebih banyak menekankan pada aspek fisiknya saja daripada aspek mental.

Alangkah baiknya jika pembangunan fisik dibarengi dengan pembangunan mental anak-anak Indonesia. Apabila upaya tersebut sudah dijalankan dengan baik, Insyaallah kita akan mendapatkan timnas sepak bola yang kuat. Amin!(*)

Tim Nasional Sepak Bola yang Kompetitif

Sepak Bola Indonesia belum juga unjuk gigi. Padahal, tim Tanah Air pernah jaya di era 1970-an. Anda sebagai mahasiswa, diajak untuk menuangkan ide dan gagasan mengenai solusi berbagai masalah persepakbolaan. Kirimkan opini dan ide Anda lewat Suara Mahasiswa ke kampus@okezone.com. Tema Suara Mahasiswa 13 - 23 Oktober 2010 adalah Tim Nasional Sepak Bola yang Kompetitif.(//rhs)

Jumat, 02 Maret 2012

Majalah Forbes Soroti Laga Bahrain-Indonesia

Ismail Abdel-Latif, Bahrain
Ismail Abdel-Latif, Bahrain
Sikap FIFA yang akan melakukan investigasi terhadap hasil pertandingan antara Bahrain dan Indonesia menarik perhatian majalah ekonomi ternama di Amerika Serikat, Forbes.

Di laman resminya hari ini, Forbes memasang judul: 'Ini bukan Basket'. Sepakbola Indonesia Menghadapi Penyelidikan Menyusul Kekalahan 10-0.

Ini merupakan kali pertama sejak satu tahun terakhir majalah ekonomi yang kerap mengeluarkan daftar manusia terkaya di dunia itu memuat artikel mengenai sebuah pertandingan di kawasan Asia. Sepakbola Asia yang sempat dimunculkan adalah ketika Nicolas Anelka hijrah ke Liga Utama Cina.

Laman majalah kenamaan tersebut mengungkapkan peluang Bahrain untuk lolos ke putaran empat dengan membutuhkan sembilan gol tanpa balas, serta posisi Indonesia yang sudah tidak memiliki kesempatan sebelum pertandingan digelar.

Hasil 10-0 itu sebetulnya sudah mengamankan Bahrain. Tapi The Red gagal lolos, karena Qatar mampu menahan imbang Iran 2-2. Situasi ini yang akhirnya membuat FIFA melakukan investigasi mengenai pertandingan di Manama.

Sebagai responnya, PSSI menyampaikan permintaan maaf atas kekalahan tersebut, dan membantah terlibat skandal suap untuk membantu Bahrain.


Forbes juga mengutip pernyataan menteri koordinator perekonomian Hatta Rajasa yang mengatakan: “Sungguh menyedihkan melihat skor 10-0. Ini bukan basket, ini sepakbola.”

Di laman itu pun disebutkan mengenai situasi persepakbolaan Indonesia sepanjang 2011 lalu, yang membuat FIFA akhirnya turun tangan, sehingga PSSI sempat terancam akan dibekukan. Termasuk dikaitkannya Menpora Andi Mallarangeng dengan kasus suap Wisma Atlet.

>> Halaman Khusus Sepakbola Indonesia
>> Semua Berita Sepakbola Indonesia
 
Free INDONESIA Cursors at www.totallyfreecursors.com